
Oleh: Aep Mulyanto, S.Hum
KELUARGA merupakan komponen masyarakat yang terpenting dalam suatu tatanan kehidupan sosial. Maju dan berkembangnya sebuah peradaban manusia, selalu berasal dari adanya keluarga. Seorang manusia mampu mengenal diri dan lingkungannya karena peran keluarga. Secara internal keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Ayah dan ibu adalah orangtua yang harus bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup keluarga, misalnya tanggung jawab akan ketersediaan pangan, papan, dan sandang.
Namun, ada satu tanggung jawab besar dan paling mendasar, yang harus dilakukan oleh orangtua, yaitu memberikan pendidikan, terutama pendidikan agama. Sedemikian pentingnya pendidikan agama, sehingga orangtua harus selektif, dalam berbagai hal, misalnya dalam mencari dan memilih sekolah yang bermutu dan berkualitas, yaitu sekolah yang mampu mendidik dan mengajarkan, tidak saja berupa kemampuan dan keterampilan hidup, namun yang sangat siginifikan adalah mendidik dan mengajarkan ilmu agama yang bermutu dan berkualitas.
Ilmu Agama harus diajarkan sejak dini kepada anak-anak dan keluarga telah diperintahkan Rasulullah SAW., dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Setiap Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tunyalah yang menyebabkan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. Usaha untuk menjaga fitrah manusia yang sejak lahir dalam keadaan suci, akan menghasilkan anak-anak dan keluarga yang baik, mampu berbakti, dan bisa berbuat sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Pemahaman yang baik terhadap ilmu Agama Islam, akan melahirkan generasi yang Islami, kuat secara akidah dan keyakinan.
Sebagai orangtua yang bertanggung jawab pada kelangsungan generasi penerus, di dalam Islam ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu :
Pertama memberi nama yang baik. Dengan kelahiran anak dalam keadaan fitrah (suci) sebaiknya, orangtuanya segera memberikan nama, sebagai sebuah identitas resmi. Memberi nama harusnya dipikirkan dengan cermat, karena nama adalah do’a yang menjadi panggilan dalam kehidupan sehari-hari. Nama yang baik dapat memberikan semangat anak untuk mengapai kemuliaan dan kesuksesan hidup, baik secara pribadi maupun masyarakat di lingkungannya.
Kedua, mendidik dengan penuh kasih sayang. Mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang merupakan tugas mulia bagi orangtua. Anak adalah amanah titipan Allah SWT., baik buruknya perkembangan dan perilaku anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab orangtua. Satu cara yang baik dalam mendidikan anak adalah dengan peran keteladanan. Mencontohkan akhlak terpuji dan terbiasa menjalankan ibadah secara berjama’ah, merupakan uswah hasanah yang telah diterangkan oleh Rasulullah SAW., Misalnya mencontohkan untuk selalu shalat berjama’ah. Sabda Rasulullah SAW., yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud menyatakan “Perintahkan anak-anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah jika mereka enggan melakukannnya bila telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka”. Kewajiban orangtua untuk memerintahkan anak-anak untuk mengerjakan shalat, sebuah keniscayaan bagi orangtua tersebut untuk selalu mengerjakan shalat.
Ketiga, memberikan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas menjadi harapan semua orangtua. Karena hanya dengan pendidikan yang berkualitas, anak dapat berkembang dengan baik, menjadikan anak memiliki rasa takut kepada Allah SWT., akhlak dan perilaku terpuji yang mencintai Rasulullah SW., bangga terhadap Islam sebagai agamanya serta taat dan patuh pada orang tua. Pendidikan yang berkualitas juga akan menempatkan generasi penerus pada derajat dan kemampuan bertahan hidup yang baik. Allah SWT., berfirman dalam Q.S. Al-Mujadillah : 11,yang artinya, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Keempat, menjaga kedekatan emosional. Ketika anak-anak semakin tumbuh dewasa, maka yang perlu dilakukan oleh orangtua adalah menjaga kedekatan emosionalnya. Kemajuan jaman dengan era globalisasi yang sangat pesat, bisa menjadi ancaman dan peluang bagi perkembangan generasi terbaik bangsa. Pada satu sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolgi dapat mempermudah setiap aktivitas manusia, namun juga bisa membuat manusia terjerumus kepada hal-hal negatif. Orangtua sedapat mungkin selalu mengkontrol setiap aktivitas anak, memberi motivasi dan dorongan semangat, ikut terlibat dalam keseharian, membimbing dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi anak dengan bijak dan hikmah. Menjaga kedekatan emosional dengan komunikasi yang baik, akan menjauhkan anak-anak dari pengaruh negatif kemajuan jaman yang kadang kala tidak sesuai dengan ajaran agama.
Segala upaya yang dilakukan orangtua dalam memberikan Tarbiyatul Aulad (pendidikan agama) yang bermutu dan berkualitas, tidak hanya menjadi tanggung jawab pribadi per orang, karena ada beberapa faktor yang menjadikan sistem pendidikan berhasil dengan baik. Keluarga, dalam hal ini orangtua sangat signifikan perannya, selain itu lingkungan, bisa masyarakat, bangsa dan negara juga memiliki peran yang sangat strategis.
Peradaban yang tinggi dan mutakhir sebuah bangsa dan negara, selalu diawali dengan adanya peningkatan kualitas pendidikan bagi generasi mudanya. Dengan menjadi pendidik yang baik bagi generasi muda, maka orang tua, masyarakat, bangsa dan negara telah melakukan tugas dan tanggung jawab mulia, yang kesemuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Marilah kita laksanakan tugas dan tanggung jawab kepada genarasi penerus, kepada umat, bangsa dan negara, agar kita termasuk kelompok manusia yang berperadaban baik dan mulia, sehingga tatatan kehidupan bermasyarakat, bangsa dan negara kita tercinta ini sesuia dengan ajaran Islam. Jauh dari pertikaian, perselisihan, dan pertentangan yang membinasakan kita sendiri, hal ini harus kita mulai dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat terdekat kita. Semoga.
*Penulis; Alumni Sekolah Demokrasi Sanggau
Angkatan Pertama
Sumber : http://www.pontianakpost.com/pendidikan-agama-untuk-keluarga